- Back to Home »
- opini , politik »
- Kritik Konyol Tapi Masuk Akal
Apa sih komentar yang bakal kamu lontarkan jika mendengar kata Politik? Mungkin sebagian dari kita sebagai mahasiswa berkomentar dengan sinis dan ogah-ogahan. Mungkin saja kita berkomentar: politik itu semacam hal terburuk yang di buang di pagi hari, atau politik itu adalah permainan uang.
Bagaimana tidak?! Kita setiap hari, mulai pagi sampai pagi lagi dicekoki berita-berita tentang keterpurukan Bangsa Indonesia kita tercinta ini. Kasusnya sih beraneka ragam mulai dari yang paling sering itu “KORUPSI”. Korupsi kok sekarang semakin membudaya seperti ini ya? Semua masih ruwet masalah korupsi malah muncul lagi masalah yang baru, bukan? Ya begitulah kondisi Negeri kita ini. Semua pasti berpikir, dan merasa kita selalu di permainkan dengan orang atas.
Kasus yang terbaru kali ini kenaikan harga BBM yang melanda Negeri kita ini. Bagi orang kaya jelas kenaikan BBM bukan termasuk masalah yang serius. Akan tetapi, bagi masyarakat kecil jelas kenaikan harga dari Rp. 4500 menjadi Rp. 6500 ini mencekik keluarga mereka. Bagi nelayan misalnya, mereka mana mungkin bisa melaut tanpa menggunakan solar untuk bahan bakar? Pada saat harga Solar Rp. 4500 saja mereka sangat keberatan karena penjualan hasil tangkapan mereka tidak mencukupi untuk mengganti uang solar. Apalagi saat ini solar udah naik menjadi Rp. 5500?
Sebagai mahasiswa kita memang harus kritis. Kemarin saat ngobrol santai di balai rumah salah satu Nelayan di Banyuwangi, saya bertanya “Pak, pripun niki BBM kok nggih tasih mundak mawon, Panjenengan pripun menawi padhos ulam?”(”Pak, bagaimana ini BBM kog masih naik terus harganya, Bapak bagaimana cari ikannya?)” dan beliau tersebut juga dengan mudah menjawab “ Yo bene mas, paling pemerintah ki arep mateni rakyat cilik” (“ya biarkan mas, mungkin pemerintah itu mau membunuh rakyat kecil”) seketika saya berkomentar “menawi niku nggih targete saget bermanfaat teng masyarakat Pak” (”mungkin targetnya bisa memberi manfaat bagi masyarakat Pak”) beliau juga menjawab “gek endi seh mas buktine, mbiyen seng jarene ono BLT gae rakyat miskin ae gak enek kabare. Mbok yo ojo BBM seng diundakne hargane, pajek ae lo seng diundakne gawe masyarakat seng duwite akeh kuwi, utowo lek gak ngono opo petugase nek POM Bensin iku di ketati bene seng nduwe mobil mewah-mewah kuwi ngisi seng non-subsidi. Kan otomatis BBM subsidi tepat sasaran” (”mana sih mas buktinya, dulu katanya ada BLT untuk rakyat miskin saja tidak ada kabarnya. Mbok ya jangan BBM yang dinaikkan harganya, pajak saja yang dinaikkan untuk masyarakat yang uangnya banyak,atau kalau tidak begitu apa petugas di POM Bensin itu lebih diperketat biar yang punya mobil mewah-mewah itu ngisi yang non-subsidi. Kan otomatis subsidi tepat sasaran”).
Dialog tersebut berlangsung singkat tapi sangat mengena bagi kita sebagai mahasiswa. Kritik dan cletukan masyarakat nelayan tersebut sangat masuk akal, dan mungkin sebagian dari kita malah belum menyadarinya. Semoga Bangsa Indonesia lebih berkompeten di kancah Internasional. Aamiin :)
Sebagai mahasiswa kita memang harus kritis. Kemarin saat ngobrol santai di balai rumah salah satu Nelayan di Banyuwangi, saya bertanya “Pak, pripun niki BBM kok nggih tasih mundak mawon, Panjenengan pripun menawi padhos ulam?”(”Pak, bagaimana ini BBM kog masih naik terus harganya, Bapak bagaimana cari ikannya?)” dan beliau tersebut juga dengan mudah menjawab “ Yo bene mas, paling pemerintah ki arep mateni rakyat cilik” (“ya biarkan mas, mungkin pemerintah itu mau membunuh rakyat kecil”) seketika saya berkomentar “menawi niku nggih targete saget bermanfaat teng masyarakat Pak” (”mungkin targetnya bisa memberi manfaat bagi masyarakat Pak”) beliau juga menjawab “gek endi seh mas buktine, mbiyen seng jarene ono BLT gae rakyat miskin ae gak enek kabare. Mbok yo ojo BBM seng diundakne hargane, pajek ae lo seng diundakne gawe masyarakat seng duwite akeh kuwi, utowo lek gak ngono opo petugase nek POM Bensin iku di ketati bene seng nduwe mobil mewah-mewah kuwi ngisi seng non-subsidi. Kan otomatis BBM subsidi tepat sasaran” (”mana sih mas buktinya, dulu katanya ada BLT untuk rakyat miskin saja tidak ada kabarnya. Mbok ya jangan BBM yang dinaikkan harganya, pajak saja yang dinaikkan untuk masyarakat yang uangnya banyak,atau kalau tidak begitu apa petugas di POM Bensin itu lebih diperketat biar yang punya mobil mewah-mewah itu ngisi yang non-subsidi. Kan otomatis subsidi tepat sasaran”).
Oleh







