#ILOVEBWI
Yang penting itu, setelah kalian lulus kuliah kembali ke Banyuwangi dan mengembangkannya, bukan cuma menuntut Banyuwangi harus punya apa.
Dibalik Angel Foto Favorit Cewek
Kenapa cewek suka pake angel (sudut pengambilan gambar) seperti ini?
Oke. Langsung saja play videonya.
Jadi, sudah tau alasan kenapa cewek suka berfoto dengan angel pojok kanan/kiri atas? Yah, jawaban kamu benar sekali. :D
Oleh:
Perlukah Kurikulum Khusus Wanita ?
Wanita dijajah pria sejak dulu, dijadikan perhiasan sangkar madu, lyric lagu *music*sabda alam. Mungkin ada benarnya juga sih, tapi entahlah, mengapa sepanjang sejarah peradaban, wanita menjadi urusan. Mulai trafficking sampai merebak kepersoalan TKW & karier. Dari kesepakatan 30% wanita diparlemen smpai bidang hukum & hak asasi perempuan. Diruang agama juga pernah diramaikan oleh problem aticfiqh. Didunia edukasi juga .
Dlam sebuah acara training guru-guru SMP negeri swasta se-Jatim, terdapat 80 peserta, 12diantaranya perempuan. Seorang pemateri bertanya kepada peserta, "Mengapa jumlah wanita lebih sedikit?" Dan mendapati jawaban yang menarik "Sebaiknya dibuat saja pelatian khusus wanita, jika perlu buat kurikulum khusus wanita".
Munculnya ide tersebut tentunya ada anggapan bahwa mereka kaum tertindas, kaum yang tertinggal. Sesungguhnya tradisilah yang menggiring mereka terdegradasi pada posisi buncit. Jeratan kultur itulah yang mengikat aktifitasnya hanya berkutak pada 'dapur, sumur, kasur'. Walaupun sebagian memposisikan seperti perhiasan, pusaka dan didewi tololkan. Bahkan tafsir dari alim ulama belum mampu mengusung posisi perempuan sebagai subjek. Hal ini terlihat, wanita merupakan bagian 3 ujian; harta, tahta dan wanita.
Perempuan sesungguhnya merupakan subjek pendidikan (ibu adalah madrasah bagi anak-anaknya; pepatah arab) dengan pengetahuan yang dia miliki dan aqidah dihati mereka bahwa Tuhan senantiasa berperan dalam setiap langkahnya, jika wanita sudah lupa pada Tuhan, maka apa saja bisa dijual termasuk hargadirinya.
Katanya,wanita adalah tiang negara,kalau tiangnya saja hancur bagaimana negaranya?
Jadi kurikulum khusus perempuan apakah perlu?
Music Player-mu
Akun @MahasiswaBWI akan membuat ilustrasi music player dari lagu favorit kamu. Segera mention ke kami, apa lagu favorit kamu hari ini, nanti kami buatkan ilustrasinya khusus untuk kamu. Ya just for fun lah :D
Oleh
_____________________________________________________________________
#SongOfTheDay Catur Arum - Bingung | Bingung kapan lulus kuliah .... -_- pic.twitter.com/NaSbtRhc7N
— Mahasiswa Banyuwangi (@MahasiswaBWI) July 31, 2013
Oleh
_____________________________________________________________________
Tag :
opini,
Nikmati Semua Episode-mu
Manusia itu, selalu merasa kurang. Hal itu wajar, sama halnya dengan setiap orang ingin kembali pada masa dimana dia merasa sempurna. Ini yang terjadi kepada banyak mahasiswa. Mahasiswa itu punya siklus yang...yah boleh dikatakan siklus ini berabad-abad belum bisa berubah. Dari mulai jadi mahasiswa baru - senior - magang - KKN - skripsi - sidang - dan lulus. Nah sekarang yang kita bahas adalah kebanyakan mahasiswa gak bisa menikmati setiap fase dari siklus tersebut. Contohnya? Nih...
Ketika sudah dan baru jadi mahasiswa baru (red:maba) pengennya cepet ngerasain magang. Magang diperusahaan gede dan seolah-olah udah jadi pekerja tetap disina - go home bro, you're drunk -.
Dan waktu begitu cepat. Semester 6 datang. Semester ini beneran waktunya magang. Magang ada yang ditentukan oleh fakultas, beberapa juga bisa cari tempat sendiri. Katakanlah sudah magang di tempat yang benar-benar diinginkannya. Udah jalan 1 bulan dari 2 bulan waktu magang. Dan rasa bosen muncul. "Bosen banget magang, tiap hari berangkat pagi pulang sore. Enak waktu masih maba, mau ngapain aja punya banyak waktu luang". Udah mulai 'sesat'. Magang pun selesai.
Semester 7 datang. Ini adalah semester yang ditunggu-tunggu. Semester dimana kebanyakan mahasiswa mulai KKN. Ada juga sih yang semester 6 udah KKN. Registrasi KKN dimulai. Ketemu sama mahasiswa dari berbagai jurusan. Mata berbinar-binar kalau ada yang bening. Langkah ditegapkan, suara dibesarkan, dan mulai berpakaian....yah kalian tau lah gimana mahasiswa kalau mau cari perhatian. Pembekalan KKN udah lewat. Pengumuman ujian KKN dan seleksi kelompok juga udah terbit. Masuk dalam kelompok dengan yang menurutnya paling OK. KKN berlangsung sebulan, eh..ada yang jadian satu kelompok. Ada konflik dari masing-masing orang dalam kelompok. Banyak hal-hal yang udah dilewati bersama. Terakhir, ada haru ketika KKN telah usai. Hmm...telenovela banget. Eitss...lupa, ditengah-tengah KKN tadi, muncul rasa bosen. KKN cuma seperti ini aja, pengen pulang. Pengen kumpul temen-temen satu jurusan. "Males banget gue bro, tiap hari kerjaannya cuma begini, datang ke rumah warga, ngasih penyuluhan apalah...kayak hidup cuma buat susah-susah aja. Fasilitas gak ada, signal susah, mau update status aja gak bisa. Enak pas magang dulu ya, dateng pagi, absen, dapet makan siang, free WiFi, ruangan ber-AC, akhir magang dapet pesangon. Kalau KKN udah kayak kerja rodi deh". Kesesatan berikutnya terjadi. KKN pun selesai.
Waktu berjalan begitu cepat. Semester 8 pun kini datang. Sistem akademik pun menunjukkan Skripsi boleh ditempuh. Semangat! Jiwa muda berkobar untuk menyelesaikan skripsi tepat pada waktunya. Pengajuan judul pun dimulai. Dari 3 judul, hanya 1 judul yang layak, dan itupun revisi. Lanjut seminar proposal, dengan 2 minggu sibuk revisi dengan dosen pembimbing akhirnya tiba waktu presentasi poposal. Cuma butuh waktu 1 jam, akhirnya lolos dengan pertanyaan bertubi-tubi dari dosen pembahas. Tak perlu waktu lama, surat pengantar penelitian pun terbit. Ditengah-tengah penelitian dan penghimpunan data, menadadak berada dalam titik jenuh. Tak ada yang bisa dilakukan kecuali mencari hiburan. Kumpul bareng temen dan melakukan canda tawa. Sesekali muncul kelimat "Susahnya skripsiku bro, harus kesana-kemari, ngabisin duit. Capek tiap hari mondar-mandir. Tiap bimbingan, selalu ada yang salah, ada yang kurang. Padahal juga udah maksimal. Kam*ing banget tuh dosen. Bikin susah mahasiswa aja. Enak juga waktu masih KKN kemaren bro, santai, tiap hari kumpul sama orang yang baru kenal, ngerasain hal-hal yang belum kita rasain, hidup dilingkungan baru, gue cinlok, temen gue ada yang putus gara-gara ketemu yang baru di KKN. Pokonya enak KKN deh, masa-masa paling indah". Jadwal sidang pun keluar, dan akhirnya dinyatakan lulus.
Waktu kuliah pun berlalu begitu singkat. Jadwal yudisium udah ada dan minggu depannya wisuda. Hal yang paling menyenangkan dan menyedihkan dalam siklus kuliah, wisuda. Seneng karena gelar yang selama ini kita idam-idamkan telah dicapai. Sedihnya karena mau tidak mau akan berpisah dengan bangku kuliah, teman seangkatan, dosen...bisa juga gebetan yang masih awal semester. Menyedihkan bukan? Mau bagaimana,ini memang udah siklus, dan merupakan episode yang harus kamu lewati. Beberapa bulan setelah wisuda, benar-benar dihadapkan dengan 'hutan lebat' dimana kehidupan sebenarnya dimulai. Ketika sempat asa berkurang, batin berbicara "Hidup dan waktu terlalu cepat berlalu. Padahal baru kemarin aja rame-rame kuliah di kelas, TA cuma karena telat bangun, jadi panitia ospek, ngelembur tugas semalaman gak tidur, buka bersama temen sengakatan, magang ditempat favorit, KKN yang tak terlupakan, susah-susahnya ngerjain skripsi. Rasanya enak masih jadi mahasiswa, uang juga masih dijatah sama orang tua. Sekarang harus seperti ini. Hidup memang keras".
Nah, samapai disini, apa ini adalah siklus dengan episode yang salah? Tentunya bukan. Yang salah adalah cara kita melewatinya dulu. Ketika kamu selalu mengelu ketika melewati tiap episode, maka hasilnya bisa sepeti itu. Tetapi jika kamu menikmati semua dan setiap episode-mu, yakin deh akan berbeda. Dari pada menyesali pasti lebih banyak bersukur. Ada 3 pertanyaan untuk diri sendiri ketika kamu selalu ingin kembali ke masa lalu:
- Apakah memang benar ada mesin waktu?
- Apakah kamu ada dilingkungan yang salah?
- Apakah kamu sudah bersukur atas semua hal yang diberikan oleh Tuhan?
Oke sob, do wit your own risk. Jangan pernah menyesali apa yang sudah.
Oleh
Waktunya Mencari Ilmu, Bukan Mencari Uang
Saya cukup pusing melihat hiruk pikuk kehidupan kota ini. Kota kecil dengan kegiatan yang begitu ramai dan padat setiap harinya. Tidak luput dari polusi, tidak luput dari permasalah lainnya juga. Saya sempatkan pikiran ini berhinggap sebentar di anak-anak pengamen dan pengemis. Rasanya itu nyesek lihat mereka, tapi nyesek pun tidak cukup. Toh, saya hanyalah mahasiswa yang uang jajan saja masih minta sama orang tua. Malah saya merasa minder juga kalau melihat mereka itu. Mereka masih kecil, sudah mencari uang, saya sendiri malah enak-enakan habisin uang dengan nyaman. Duhhh....
Ya sudahlah, mau mereka mencari, mau saya menghabiskan, itu memang sudah jalannya. Yang ada difikiran saya, kapan pemerintah ini peduli sama mereka. Anak-anak kecil ini belum waktunya kan buat cari uang? Mereka itu masih waktunya cari ilmu, waktunya belajar, waktunya sekolah. Tapi mereka malah cari penghasilan hanya untuk sekedar sesuap nasi saja. Sedangkan pemerintah malah enak-enakan menghabiskan uang rakyat. Ya kan? Pemerintah ini memang "gak peka" atau memang "gak tau". Tapi masak sih gak tau? Memangnya hanya satu anak kecil saja apa yang mengamen, mengemis? Banyak sekali padahal, ya kan? Entahlah sampai kapan pemerintah kita ini akan memberikan perhatian lebih sama anak-anak yang kurang beruntung ini. Semoga saja ada keberuntungan yang menghinggapi mereka nanti.
Ya sudahlah, mau mereka mencari, mau saya menghabiskan, itu memang sudah jalannya. Yang ada difikiran saya, kapan pemerintah ini peduli sama mereka. Anak-anak kecil ini belum waktunya kan buat cari uang? Mereka itu masih waktunya cari ilmu, waktunya belajar, waktunya sekolah. Tapi mereka malah cari penghasilan hanya untuk sekedar sesuap nasi saja. Sedangkan pemerintah malah enak-enakan menghabiskan uang rakyat. Ya kan? Pemerintah ini memang "gak peka" atau memang "gak tau". Tapi masak sih gak tau? Memangnya hanya satu anak kecil saja apa yang mengamen, mengemis? Banyak sekali padahal, ya kan? Entahlah sampai kapan pemerintah kita ini akan memberikan perhatian lebih sama anak-anak yang kurang beruntung ini. Semoga saja ada keberuntungan yang menghinggapi mereka nanti.
Kalau anak-anak kecil seperti mereka saja waktunya mencari ilmu malah mencari uang, bagaimana bisa menjadi agen perubahan? Apa yang mau dirubah kalau mereka saja masih sulit untuk setidaknya makan sesuap nasi saja? Ya kan?
Saya rasa, sangat-sangat sulit mewujudkan wacana bahwa anak adalah agen perubahan. Perhatian lebih dari sosok pemerintah yang bertanggung jawab, yang setidaknya lebih peduli terhadap nasib mereka sangatlah dibutuhkan.
Saya sangat setuju, apabila anak-anak dijadikan sebagai agen perubahan. Tapi kalau melihat realita yang ada saat ini. Apakah iya nantinya bisa menjadi sebuah agen perubahan kalau mereka saja sangat tidak diperhatikan? Sulit. Tapi satu kata "sulit" itu bukan berarti tidak mungkin. Hanya saja, perlu adanya perbaikan hingga perhatian juga dari pemerintah untuk bekerja sama dengan orang tua anak-anak ini. Terima kasih
Oleh
Masa Kecil Diperbudak Globalisasi
Dewasa ini kita begitu banyak melihat fenomena yang mungkin bisa dibilang tidak begitu lazim bila kita melihat dengan mata kepala telanjang kita sebagai manusia. Perbudakan manusia ada dimana-mana. Dunia seakan membunuh penghuninya dengan sendirinya, yaitu manusia. Jaman yang semakin maju, manusia dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan yang ada. Manusia seakan dikejar oleh dunia ini sendiri yang selama ini mereka tempati. Bagi mereka yang hanya berdiam diri begitu saja, mustahil rasanya bagi manusia ini untuk bertahan dengan lama di dunia ini. Singkatnya, jangan berdiam diri bila kalian ini berkembang dan bergerak maju untuk mengikuti perkembangan jaman ini. Memang pada dasarnya dunia dengan manusianya tidak akan bisa dipisahkan, seperti prangko dan suratnya, begitulah.
Sepenggal paragraf di atas bukan inti dari judul yang saya tulis tebal, namun hanyalah sebagai analogi betapa kejamnya dunia ini bila manusianya sendiri tidak dapat menmpatkan dirinya benar-benar sebagai manusia yang baik dan benar. Baik bukanlah selalu benar, dan juga sebaliknya. Mayoritas menganggap bahwa baik itu sudah benar, tidak segampang itu menyebutnya.
Ya, memang di jaman globalisasi ini anak kecil (manusia juga kan?) sudah seperti diperbudak oleh jaman yang semakin kejam. Saya tidak beranggapan bahwa anak kecil ini sudah tidak layak lagi untuk menjadi anak pintar dan cerdas. Saya hanyalah memberikan asumsi awal kepada anak kecil yang pada awal pertumbuhannya sudah diperbudak bagaimana bisa menjadi agen perubahan? Bukan tidak mungkin untuk menjadi agen perubahan namun sangat sulit rasanya. Baiklah saya akan menjelaskan mengapa diperbudak dan mengapa sulit untuk menjadi agen perubahan seperti tema dari tulisan ini.
Jaman yang maju bukan berarti selalu baik dan benar. Benarkah bukan? Jaman yang maju tidak selalu memberikan implikasi yang positif pula kan? Pada saat masih kecil, anak kecil yang baru berusia hitungan tahun saat ini sudah meminum susu formula yang dijual di toko-toko pinggiran jalan. Padahal hal ini tidak memberikan hal yang baik bagi si anak kecil ini. Memang lebih simple lebih mudah, dan ibu juga tidak perlu kesulitan lagi untuk mengeluarkan ASI eksklusif juga kan? Tapi coba kita lihat dari sisi kesehatan, sepengetahuan saya, seorang anak kecil sangat disarankan, bahkan mungkin juga wajib untuk mendapatkan ASI eksklusif hingga 20 bulan umurnya. Barulah setelah itu anak kecil ini boleh lah untuk diberikan susu formula yang ada di toko-toko pinggiran jalan itu. Coba bayangkan saja, anak kecil yang belum genap usianya dalam 1 tahun sudah meminum susu formula yang tidak dapat kita ketahui kandungan dari susu itu apa saja yang dapat memberikan manfaat pada anak kecil yang belum waktunya untuk meminum susu formula ini. Iya kalau memang baik? Kalau buruk bagaimana? Apa iya nantinya anak kecil ini menjadi agen perubahan seperti apa yang diharapkan? Mungkin bisa, tapi sulit. Dari sisi ekonomi, susu formula yang harganya bisa mencapai ratusan ribu bisa memberikan dampak yang cukup besar terhadap penghasilan orang tua si anak ini. Tidak cukup 1 pack saja dalam satu bulan, bisa mencapai 5 bahkan 7 pack dalam 1 bulan. Sedangkan harga1 packnya saja bisa mencapai ratusan ribu. Lalu orang tua mencari penghasilan tentu tidak hanya mendapatkan 1 pack susu formula saja. Ya kan? Apakah orang tua ini tidak kewalahan juga mencari uang sebanyak itu? Iya kalau orang tua anak ini adalah orang yang kelasnya kelas menengah ke atas, kalau menengah ke bawah? Hal ini menurut saya justru membawa kepada jurang kemiskinan rakyat Indonesia sendiri yang bisa dibilang masih dalam taraf menengah ke bawah.
Selain dari segi ekonomi dan kesehatan, kita bisa membayangkan betapa manjanya nanti si anak apabila tidak meminum susu formula ini, sedangkan orang tua sudah tidak mampu untuk membelikan susu formula. Makan nasi saja tidak mau, harus minum susu pastinya. Nah kan, bagaimana anak bisa dianggapa agen perubahan kalau makan nasi saja tidak mau? Padahal Indonesia sendiri merupakan negara agraris lho. Ya kan?
Kesimpulan dari tulisan ini adalah, anak kecil yang diperbudak oleh perkembangan jaman disini yang saya maksudkan perkembangan anak kecil yang masih umurnya belum begitu lama, namun sudah tidak diberikan ASI eksklusif yang seperti harusnya dilakukan sesuai dengan anjuran kesehatan. Sehingga, anak kecil ini pada perkembangannya tidak dapat berkembang dengan baik dan benar juga. Dan saya lebih setuju bahwa anak ini nantinya tidak akan menjadi agen perubahan namun justru pada agen kehancuran masa depan bangsa ini. Perlu ada perhatian serius dari permasalahan ini. Kerja sama antara pemerintah dengan masyarkat tidak bisa dilepaskan begitu saja.
Oleh
Takut Sekaligus Bingung Dengan Skripsi
Selamat pagi kampusku tercinta, FISIP Universitas Jember. Selamat pagi teman-temanku. Selamat pagi dosen-dosenku. Kampus yang sudah seperti rumahku sendiri. Setiap hari udah keliaran, nongkrong disini. Sudah tidak terasa 3 tahun lebih ada ditempat ini. Dulu yang tadinya gak tau apa-apa sekarang alhamdulilah tau-tau sedikit lah setidaknya apa itu kuliah dan apa itu mahasiswa. Tidak terasa sudah waktunya ya aku ini buat keluar dari sini. Sudah waktunya mengakhiri masa-masa indah jadi mahasiswa ini maksudku.
Ya, kemarin waktu mau pemrograman mata kuliah, iya kebingungan dah. Mau ngambil mata kuliah apa ini. Mau "klik" yang mana ini. Gimana gak bingung. Semua mata kuliah udah hampir beres ditempuh. Tinggal satu mata kuliah yang belum aku tempuh. Emang sih tinggal satu doang. Tapi ya gtu, meskipun satu tetep aja rasanya lebih berat daripada mata kuliah sebelum-sebelumnya yang udah puluhan jumlahnya. Nah, mata kuliah itu adalah SKRIPSI. Rasanya kepala ini langsung berat banget buat kemana-mana waktu dosen pembimbing bilang "Iya emang udah waktunya buat kamu ngambil mata kuliah ini". Rasanya kayak ketemu mantan yang masih disayang terus lagi jalan sama temen sendiri. Doeeeeennnnnngggg jleebbbb!
Ini mau ngapain skripsi coba. Terus terang aja dah, skripsi dimulai darimana aja aku belum tau alurnya. Belum lagi kalo pun udah tau alurnya, terus mau di isi apa itu lembaran-lembaran kertas halus ukuran A4 itu. Mau gak diambil itu udah waktunya, mau diambil, bingung mau kemana arahnya. Ini baru terasa dah sulitnya jadi mahasiswa. Rasanya aku rindu sekali dengan masa-masa maba dulu. Masa-masa belum tau apa-apa, masih seneng-seneng. Masa dimana masih bangga ketika ditanya kakak tingkat atau dosen dengan pertanyaan "Angkatan tahun berapa?". Kalo sekarang ditanya dengan pertanyaan kayak gitu, mau jawab itu rasanya gak beda jauh pas dtanya gebetan "Kapan sih kamu nembak aku?". Jleebbbb.
Skripsi oh skripsi. Kamu kenapa bikin gue bingung gini?!
Oleh
Menuju 2014 = Hajatan Negeri Demokrasi
Tahun 2013 sudah mendekati akhir. Tidak genap dalam hitungan bulan menuju 1 tahun ke depan negeri ini akan menggelar hajatan besarnya. Ya, pemilihan umum di tahun 2014 sudah ada di depan mata. Tidak lama lagi kita yang sudah cukup umur akan memilih siapa yang akan menjadi orang nomer satu di negeri ini. Tongkat kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono akan segera habis. Sudah dua periode pemilihan umum beliau menang dalam pertarungan tersebut. Ini artinya sudah dapat dipastikan Indonesia akan memiliki pemimpin baru yang nantinya akan diharapkan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Mungkin, apabila orang yang tidak tahu menganggap bahwa pemilu itu hanya memilih kemudian selesai. Sudah begitu saja. Namun, bila di pahami lebih mendalam, sebenarnya pemilu ini bukan masalah memilih begitu saja dan kemudian selesai. Ada nilai tersendiri yang tak terlihat ketika pemilu ini dilaksanakan. Pertama, kenapa harus demokrasi yang dijalankan? Kenapa bukan orde baru yang dulu yang dilaksanakan? Berbagai alasan dan opini pun muncul. Alasan yang biasa dikeluarkan dari pertanyaan ini adalah kebebasan dan kesetaraan. Nilai kebebasan dalam sistem demokrasi memang menjadi sebuah acuan utama dalam menjalankan sebuah pemerintahan. Berbeda sekali dengan sistem sentralistik yang dulu dijalankan pada masa orde baru. Pada masa orde baru tidak ada yang berani berbicara, karena sedikit saja mengeluarkan pendapat yang kelihatan pedas di mata dikatator besar panglima Soeharto, maka habislah riwayatnya. Berbeda kan dengan sekarang? Sekarang semua bisa berpendapat, kalangan manapun bebas untuk menyerukan opini dan aspirasinya kepada pemerintah sekelas SBY sekalipun. Ya nggak? Media menjadi bebas, dimana-mana ada, dimana-mana bisa memberikan berita dengan gaya apapun itu. Inilah senjata besar yang dimiliki demokrasi, senjata yang tidak dimiliki pada masa orde baru. Kemudian, kesetaraan. Dalam negara ini, negara demokrasi ini, semua rakyat mempunyai hak yang sama. Meskipun semua itu tidak serta merta kemudia masyarakat dengan se enak hatinya menuntut hak yang berlebihan kepada pemerintah. Hal ini juga dikarenakan, segala sesuatunya memang sudah diatur oleh Undang-Undang yang berlaku. Salah satu contoh kesetaraan dalam demokrasi ini adalah, semua masyarakat bisa memilih siapapun calonnya ketika pemilu nanti. Asalkan sudah berumur 17 tahun ke atas. Jadi, konsep kesetaraan disini, bukan berarti anak bayi yang belum tahu apa-apa sudah bisa memilih, namun yang sudah dikatakan 17 tahun secara umur, maka dirinya sangat berhak dalam memilih di pemilu nanti.
Kedua, desentralisasi. Dengan adanya demokrasi penuh yang saat ini dijalankan. Maka sistem pemerintahan yang dulunya sentralistik. Dijalan secara top down, maka ketika demokrasi penuh saat ini dijalankan. Sistem itu pun dirubah pada tataran desentralisasi. Dimana, seluruh daerah, seluruh wilayah diberikan kebebasan untuk mengatur pemerintahannya masing-masing. Namun, ada beberapa bidang pemerintahan yang tetap di pegang oleh pusat. Hal ini menggambarkan betapa agungnya demokrasi ini. Pada jaman orde baru, tidak ada daerah yang bisa mengatur daerahnya sendiri. Yang ada malah, diatur oleh pusat, segala sesuatunya. Kalau sekarang, daerah ingin seperti apapun juga bebas, asalkan semua itu berada dalam tataran hukum yang baik dan benar. Namun, dari desentralisasi ini yang menakutkan adalah dimana ketika satu daerah dengan daerah lainnya berbeda jauh dalam kemajuannya. Yang akhirnya menjadikan daerah satu dengan yang lainnya kurang bersahabat. Kemudian yang muncul adalah pertengkaran, konflik antar daerah yang sebenarnya tidak harusnya terjadi.
Ketiga, kebaikan umum. Kebaikan umum disini tentu berbicara tentang kepentingan mayoritas dan juga minoritas. Tentu hal ini sedikit melebar dari hakikat manusia sebenarnya yaitu kebebasan. Ya, ketika demokrasi dijalankan, maka suara mayoritas akan berperan besar dalam menentukan suatu kebijakan pemerintahan. Sebenarnya hal ini sedikit aneh bila terus menerus terjadi, namun begitulah demokrasi. Bagaimana ketika kaum-kaum minoritas yang tidak setuju dengan adanya kebijakan pemerintahan, namun tetap saja kalah dalam pertarungan dengan kaum-kaum mayoritas. Hal ini dikarenakan adanya sistem sama rasa sama rata dalam konsep kesetaraan yang berlaku di dalam demokrasi. Meskipun, pada riilnya, tidak selalu berjalan semulus apa yang ada dalam tataran normatifnya.
Itu saja mungkin sedikit pembelajaran tentang pemilu nanti. Jadi, menurut saya, sebenarnya ketika pemilu dilaksanakan, bukan hanya mencontreng atau mencoblos (mungkin sistem elektronik untuk 2014), namun banyak nilai yang tersimpan didalamnya. Banyak yang tidak tahu, meskipun hanya 5 menit atau 10 menit berada dalam bilik pemilu itu, namun bisa saja apa yang rakyat lakukan disitu akan memberikan dampak begitu lama dalam kehidupan di negeri demokrasi. Sudah saatnya masyarakat tahu dan mengerti bahwa permasalahan pemilu bukan hanyalah memilih. Di tahun depan kita akan bersama-sama melihat, siapa yang akan terpilih, dan siapa yang akan menjadi orang nomer satu di negeri ini. Apakah dia bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik? Apakah justru di bawa kepada kehancuran yang tidak pernah diharapkan? Belum ada yang tahu tentang semua itu. Yang perlu dilakukan sekarang adalah bagaimana pemerintahan yang saat ini memberikan sedikit ramuan kepada rakyatnya bahwa pemilu nanti akan berjalan dengan baik dan benar, selain memberikan penjelasan akan pemilu juga merupakan aspek penting terhadap lancar dan tidaknya hajatan negeri demokrasi ini. Terima Kasih.
Siapa Yang Harus Berkuasa?
Sudah 68 tahun Indonesia merdeka. Memang belum lama, tapi untuk ukuran negara-negara di ASEAN, mungkin bisa dikatakan lama juga. Dari perjalanan panjang sejak tahun 1945 itu, sudah banyak sistem pemerintahan yang diterapkan di Indonesia. Mulai dari jaman kemerdekaan, orde lama, orde baru, hingga sekarang jaman reformasi. Namun, dari sekian banyak sistem yang digunakan, Indonesia hingga sampai saat ini belum juga bisa dikatakan benar-benar memaknai apa yang dinamakan merdeka. Itu asumsi saya sendiri. Sistem pemerintahan yang dibangun dengan susah payah ini pastinya banyak memunculkan pemimpin, atau kasarnya penguasa di Indonesia. Kalau media menyebutnya saat ini, "Orang Nomer 1 di Indonesia". Mulai dari jamannya bung karno, pak harto, pak habibie, gusdur, megawati, hingga bapak SBY sampai saat ini. Ratusan, mungkin sudah puluhan ribu kebijakan yang diterapkan di Indonesia untuk memajukan bangsa ini. Namun, hingga jaman reformasi, hingga saat ini "demokrasi", belum juga Indonesia bisa maju seperti apa yang diharapkan. Mulai dari aspek pendidikan, kesehatan, sosial, hankam, budaya, dllnya. Semua itu masih bisa dikatakan bobrok. Memang, tidak ada kebijakan dari pemerintah, atau lebih sempitnya kebijakan dari penguasa yang hanya memberikan dampak positif, pastinya akan menuai benih negatif pula. Entah untuk sisi yang pro dengan pemerintah, atau yang kontra dengan pemerintah. Itu yang harus disadari. Namun, yang lebih mendalam lagi. Mengapa sampai saat ini dampak negatif itu bukan malah berkurang tapi malah bertambah? Lihat saja, bagaimana kebijakan di era demokrasi ini. Kita lihat saja dari aspek pendidikan. Dalam APBN, dunia pendidikan mendapatkan porsi besar dalam menjalankan pendidikannya. Namun, lihat saja ketika pagelaran besar Ujian Nasional, soal yang telat datangnya, lembar jawaban bagi siswa yang tidak layak. Kita belok kiri sebentar, lihat saja dalam dunia budaya (imbas dari desentralisasi). Lihat saja, semakin banyak saja kalimat keluar dari media, dari baju, dari mana mana sudah "I Love...". Ya kan? Tapi kita jarang menemui tulisan yang isinya "I Love Indonesia". Ya nggak? Kemudia kita belok kanan, lihat saja betapa banyak masyarakat Indonesia yang masih belum mengenal apa itu kebersihan, sampah berserakan dimana-mana, makanan yang harusnya steril, malah di duplikat menjadi makanan yang diawetkan. Sudahlah, cukup, tidak ada habisnya kalau berbicara tentang kekurangan ini. Kalau bisa disebut (lagi), kompleks. Begitulah...
Dari sekian banyak kebijakan dan kebijakan dan kebijakan itu semua, tidak akan lepas dari seorang pemimpin. Memang apa itu pemimpin? Pemimpin itu dia yang mempunyai wewenang untuk memimpin. Memimpin bukan berarti se enaknya sendiri menyuruh kesana kemari siapa yang di pimpin. Tapi memimpin itu adalah sebuah keahlian tersendiri dari seseorang yang memang sudah dapat dikatakan ahli. Lalu, siapa yang berhak menjadi pemimpin di negeri ini? Mereka yang kaya raya, yang mempunyai kekayaan tiada habisnya? Atau mereka, kaum-kaum intelektual yang mempunyai pengetahuan tentang bagaimana memimpin rakyat banyak, sebanyak rakyat Indonesia?atau bahkan, mungkin juga seorang filsuf yang harusnya memimpin? Sulit memilih dari beberapa opsi ini. Ketika kita memilih dia yang kaya raya, memang ada kemungkinan dampak positifnya, dia akan tidak tahu apa-apa, bahkan untuk menciptakan sebuah tindak KKN saja mungkin akan bingung, akhirnya peluang melebarnya peran yang dimilikinya pun akan mengecil. Namun resiko besar akan terjadi bila dia yang kaya raya ini tidak memiliki keahlian untuk memimpin rakyat yang banyak di Indonesia. Hancur mungkin jadinya. Kedua, kita memilih dia yang mempunyai intelektual mumpuni, dia yang mempunyai pengetahuan dan keahlian tentang memimpin sebegitu banyaknya rakyat Indonesia ini. Disini jelas, dia akan sangat ahli, bahkan mungkin hampir dapat dipastikan, dia akan mampu memimpin. Ya kan? Namun peluang terjadinya sisi kehancuran juga sangat besar. Bagaimana tidak, dia yang tau cara-cara (ahli) tentang sebuah "memimpin", maka dia juga tau cara untuk memanfaatkan posisinya. Itu pasti lah adanya. Bisa saja dia memanfaatkan apa yang dia tempati untuk membangun kerajaan besar nan megah. Bisa saja dia akan "sak karepe dewe" dalam menjalankan pemerintahan. Ketiga, ini adalah pilihan untuk ditujukan para filsuf. Kalau katanya Plato, mereka-mereka ini dikatakan Guardian. Guardian ini, mereka yang tau filsafat, yang belajar membaca, memahami, dan menjalankan ilmu filsafat. Sehingga dia akan tau harus bagaimana menjadi seorang pemimpin. Namun, yang ditakutkan ketika filsuf disini menjadi seorang pemimpin, nantinya akan menjadi sebuah boomerang tersendiri, karena banyak yang menganggap bahwa belajar filsafat itu dengan cara membaca dllnya itu semua selama bertahun-tahun, bahkan hingga mati. Artinya, nanti bisa saja filsuf ini menerapkan ilmunya dengan cara yang semena-mena. Ya gak? Namun, memang khusus di Indonesia sendiri belum ada pemimpin dari bidang filsafat (kalau orang awam bilang, orang yang pinter filsafat). Cukup, tiga kategori dulu saja.
Lalu, siapa yang pantas memimpin negeri ini? Opsi yang diberikan pun banyak, yang akibatnya semakin canggungnya pilihan untuk menentuka pemimpin. Apalagi bila dilihat dari konteks demokrasi. Sepertinya, akan sangat sulit menentukan siapa yang pantas menjadi pemimpin, sedangkan dalam demokrasi sendiri sudah dijelaskan bahwa demokrasi adalah pemerintahan dari, untuk, dan oleh rakyat. Artinya, pemerintahan ini segalanya, apapun itu ya rakyat. Lalu pemimpinnya siapa? Lalu yang menjalankan negara itu siapa? Apakah mungkin, dari ratusan juta orang di Indonesia yang akan menjalankan negara? Bukankah hal ini akan membawa pada kehancuran negara karena setiap orang pastinya akan mempunyai kepentingan-kepentingan sendiri. Ya kan? Itu dalam demokrasi sudah membingungkan sekali. Siapa yang berhak dan pantas menjadi seorang pemimpin di negeri ini?
Mungkin, pertanyaan itu akan terjawab setelah pemilihan umum 2014 nanti. Kita akan melihat siapa yang terpilih nantinya akan dibawa kemana Indonesia kita ini. Karena, menurut saya, apa yang sudah dijalankan Indonesia selama ini memang tidak lepas dari tirani mayoritas dan minoritas. Hajatan besar seperti pemilu itu sudah membuktikan bahwa, siapa yang menang karena suara terbanyak, sementara yang suaranya lebih kecil akan kalah, dan sudah begitu saja. Padahal mereka yang kalah juga mempunyai hak untuk menentukan siapa yang akan memimpin mereka. Secara representatif memang ini sudah baik dan benar bila melalui pemilu. Lalu, dari pemilu ini nantinya akan mengarah pada, dimanakah posisi tirani mayoritas dan minoritas di negeri ini? Dan apakah nantinya, yang mungkin akan dianggap pantas menjadi pemimpin ini berada dalam tubuh mayoritas?
*Sumber Gambar : Google
Mau Dibawa Kemana Negeri Ini?
Beberapa hari terakhir saya sedikit bisa dikatakan terisolasi oleh kawasan yang berada di pedalaman, jauh dari keramaian, jauh dari hiruk pikuk kota. Disini saya mulai berfikir, disini saya mulai bingung (lagi), karena saya pernah bingung dengan hal satu ini. Tepatnya waktu bulan maret kemarin. Satu kalimat dari anggota DPR RI ketika itu terucap, "tentukan dulu, Indonesia ini mau ikut yang kanan atau yang kiri?". Nah, dari situ, saya bingung. Memang Indonesia belum jelas kan? Mau kanan apa mau kiri coba? Mau ikut china atau mau ikut amerika? Ini dalam hal birokrasi pastinya, bukan masalah ekonomi. Kalau amerika sudah jelas kan, dengan liberalnya, kalau china sudah jelas juga dengan sosialismenya. Ya kan? Kalau Indonesia apa? Demokrasi kah? Atau feodalisme kah? Atau mungkin komunisme kah?
Saya rasa pembahasan ini sangat sulit untuk ditemukan sebuah titik temu yang jelas. Karena bila melihat aliran kanan dan kiri ini keduanya mempunyai kelemahan dan kelebihan masing-masing pastinya. Tapi, ada baiknya bila secepatnya Indonesia mengambil sikap yang bijak pula. Ambil aliran kanan atau mau ambil aliran kiri. Hal ini kelihatan memang bukanlah sebuah masalah besar seperti pertentangan Hobbes dan Locke tentang adanya negara dan tidak adanya negara, atau pertentangan Marxisme denga Liberalisme. Namun, selama hal ini tidak cepat diambil, selama itu pula posisi Indonesia akan terkatung-katung berada di tengah-tengah. Hal ini membawa dampak besar pada arah kebijakan negeri ini tentunya. Mau dibawa kemana kebijakan pemerintah Indonesia juga akhirnya tidak jelas. Ya, saya sendiri tidak begitu kaget juga bila ketika kebijakan kenaikan BBM begitu banyak yang menentang dan juga banyak yang setuju. Karena memang arah kebijakan ini belum ada kejelasan kan? Mungkin saja kan uang subsidi BBM itu di korupsi dan atau digunakan untuk hal-hal lain yang kurang bermanfaat untuk Indonesia sendiri.
Ya, mungkin ada benarnya juga kalimat dari salah satu anggota DPR RI itu, tentukan dulu, Indonesia mau ikut kanan atau kiri. Barulah, kebijakan yang baik dan benar menurut birokrasi negeri ini akan dapat di capai.
*Gambar: Google
Oleh
Tema Mahasiswa Dalam 1 Bulan
Mahasiswa selalu identik dengan perkuliahan setiap hari Senin sampai Jum'at. Bahkan, hari Sabtu juga sering ada kuliah tambahan, praktikum dan sebagainya. Padahal yang kita bayangkan dulu adalah kuliah seperti di FTV yang menayangkan tentang kehidupan mahasiswa yang santai dan foya-foya. Tapi kenyataannya??? TIDAK SEPERTI ITU ! ! Mahasiswa itu:
1. Harus bangun pagi ketika dosen meminta kuliah tambahan.
2. Mengikuti perkuliahan setiap hari
3. Ngantuk-ngantuk dengerin Dosen ceramah
4. Kita ngobrol dengan teman dikirain ngegosip
5. Ada kuis dadakan tiap minggu
6. UTS jarak bangkunya 1 meter
7. Kalau lagi kuis, sekalinya tengok kanan kiri langsung lembar jawaban disobek aja.
8. Belum lagi sebagai mahasiswa kita harus pandai-pandai ngatur Uang.
9. Kiriman sering Kali telat masuk.hmmm
10. Ada tagihan untuk uang kost
11. Jatah bensin
12. Pulsa
13. Paketan internet
14. Ngeprint
15. Makan
Ooooh God,, :D
Jadi,
Bagaimana kita membayangkan mahasiswa itu?? Ya seperti itulah fakta mahasiswa yang sebenernya. Gak heran sih, kita sering telpon orang tua sekedar curhat masalah keuangan.hehe
Oleh
Oleh
Dosen Killer dan Mantan Pacar
Dan bagaimana jika kedua makhluk ini kita bandingkan, keduanya sama-sama hadir dikehidupan mahasiswa.
Dan hasilnya adalah SAMA.
Oleh
Dosen Killer | Ngomong Semaunya, Mikir Seperlunya
Mungkin hanya bagi mahasiswa frontal yang bisa ngomong sperti itu (judul). Topiknya dosen killer. Kenapa bisa disebut killer? Alasannya mungkin sangat sederhana, tapi tak sesederhana ketika mereka ada dalam masalah ini. Seperti ini alasan kenapa mereka dijuluki dosen killer:
- Senyumnya lebih mahal dari harga SPP yang harus dibayar buat satu semester. Mereka yang mendapat predikat killer memang terlihat jarang sekali memberikan senyum kepada mahasiswanya, walaupun hanya untuk balasan sapaan dari mahasiswa. Apalagi ketika ngajar di kelas.
- Memiliki kepribadian yang kaku. Kaku disini bukan berarti mereka kikuk mau ngapain aja, justru mereka tegas dalam ngelakuin sesuatu, termasuk tegas dalam ngasih nilai E buat mahasiswa. Lebih seneng bilang kaku daripada jahat. Bukan berarti nilai bisa dinego, tapi benar-benar mereka hanya melihat mahasiswa dari jawaban soal yang mereka buat, bukan bagaimana proses mereka selama ini hingga muncul jawaban seperti itu, meskipun gak sesuai dengan harapan si killer.
- Terlalu suka bermain angka daripada perasaan. Mendapat predikat killer sudah pasti tidak enak (mungkin buat mereka) didengar. Tapi apa mau dikata. Bagi mereka lebih baik mencari hasil bagi dari jumlah semua nilai tugas, ditambah hasil beberapa kali quiz, ditambah nilai UTS dan UAS, dan juga prosentase perkuliahan daripada harus mendengarkan mahasiswa berargumen untuk nilai yang pas.
- Terlalu disiplin. Bukan berarti saya tidak suka disiplin, atau saya suka melanggar peraturan, tidak sama sekali. Hanya saja predikat killer itu terkadang melekat pada dosen dengan jam tayang penuh dalam sehari dan seminggu. Hingga harus membuat jadwal yang aneh. 3 menit telat masuk kelas maka tidak boleh mengikuti perkuliahan. Kalau bayar SPP tiap ada jam kuliah sih enak, nah sayangnya mahasiswa jadi rugi karena bayar SPP diawal.
- Tidak punya selera humor. Dosen killer lebih suka ngomong kesana-kemari dari pada harus ngasih 1 menit buat tertawa lepas bareng mahasiswanya. Hanya memikirkan hal-hal yang dianggap perlu daripada mikir bagaimana suasana kelas biar hidup. Ketika kelas dimasuki dosen killer pasti mati, mati mood-nya untuk mengerti kuliah dan harus hidup 100% matanya untuk memastikan tidak ditunjuk dosen.
Kalau kalian pernah menemui dosen killer selama kuliah, kalian merasakan hal yang memang harus kalian rasakan selama kuliah. Kalau Anda dosen dan membaca tulisan ini dan Anda tidak setuju, mungkin Anda mendapat predikat killer hanya saja Anda pura-pura tidak tau. Memangnya kami peduli jika Anda killer? Tanya sama tong sampah.
Oleh
Oleh
Information System. Graphic Designer. iOS & Android modder. #MUFC.
Official Webpage
Twitter @openfanatic
Official Webpage
Twitter @openfanatic
Tag :
opini,
Kritik Konyol Tapi Masuk Akal
Apa sih komentar yang bakal kamu lontarkan jika mendengar kata Politik? Mungkin sebagian dari kita sebagai mahasiswa berkomentar dengan sinis dan ogah-ogahan. Mungkin saja kita berkomentar: politik itu semacam hal terburuk yang di buang di pagi hari, atau politik itu adalah permainan uang.
Bagaimana tidak?! Kita setiap hari, mulai pagi sampai pagi lagi dicekoki berita-berita tentang keterpurukan Bangsa Indonesia kita tercinta ini. Kasusnya sih beraneka ragam mulai dari yang paling sering itu “KORUPSI”. Korupsi kok sekarang semakin membudaya seperti ini ya? Semua masih ruwet masalah korupsi malah muncul lagi masalah yang baru, bukan? Ya begitulah kondisi Negeri kita ini. Semua pasti berpikir, dan merasa kita selalu di permainkan dengan orang atas.
Kasus yang terbaru kali ini kenaikan harga BBM yang melanda Negeri kita ini. Bagi orang kaya jelas kenaikan BBM bukan termasuk masalah yang serius. Akan tetapi, bagi masyarakat kecil jelas kenaikan harga dari Rp. 4500 menjadi Rp. 6500 ini mencekik keluarga mereka. Bagi nelayan misalnya, mereka mana mungkin bisa melaut tanpa menggunakan solar untuk bahan bakar? Pada saat harga Solar Rp. 4500 saja mereka sangat keberatan karena penjualan hasil tangkapan mereka tidak mencukupi untuk mengganti uang solar. Apalagi saat ini solar udah naik menjadi Rp. 5500?
Sebagai mahasiswa kita memang harus kritis. Kemarin saat ngobrol santai di balai rumah salah satu Nelayan di Banyuwangi, saya bertanya “Pak, pripun niki BBM kok nggih tasih mundak mawon, Panjenengan pripun menawi padhos ulam?”(”Pak, bagaimana ini BBM kog masih naik terus harganya, Bapak bagaimana cari ikannya?)” dan beliau tersebut juga dengan mudah menjawab “ Yo bene mas, paling pemerintah ki arep mateni rakyat cilik” (“ya biarkan mas, mungkin pemerintah itu mau membunuh rakyat kecil”) seketika saya berkomentar “menawi niku nggih targete saget bermanfaat teng masyarakat Pak” (”mungkin targetnya bisa memberi manfaat bagi masyarakat Pak”) beliau juga menjawab “gek endi seh mas buktine, mbiyen seng jarene ono BLT gae rakyat miskin ae gak enek kabare. Mbok yo ojo BBM seng diundakne hargane, pajek ae lo seng diundakne gawe masyarakat seng duwite akeh kuwi, utowo lek gak ngono opo petugase nek POM Bensin iku di ketati bene seng nduwe mobil mewah-mewah kuwi ngisi seng non-subsidi. Kan otomatis BBM subsidi tepat sasaran” (”mana sih mas buktinya, dulu katanya ada BLT untuk rakyat miskin saja tidak ada kabarnya. Mbok ya jangan BBM yang dinaikkan harganya, pajak saja yang dinaikkan untuk masyarakat yang uangnya banyak,atau kalau tidak begitu apa petugas di POM Bensin itu lebih diperketat biar yang punya mobil mewah-mewah itu ngisi yang non-subsidi. Kan otomatis subsidi tepat sasaran”).
Dialog tersebut berlangsung singkat tapi sangat mengena bagi kita sebagai mahasiswa. Kritik dan cletukan masyarakat nelayan tersebut sangat masuk akal, dan mungkin sebagian dari kita malah belum menyadarinya. Semoga Bangsa Indonesia lebih berkompeten di kancah Internasional. Aamiin :)
Sebagai mahasiswa kita memang harus kritis. Kemarin saat ngobrol santai di balai rumah salah satu Nelayan di Banyuwangi, saya bertanya “Pak, pripun niki BBM kok nggih tasih mundak mawon, Panjenengan pripun menawi padhos ulam?”(”Pak, bagaimana ini BBM kog masih naik terus harganya, Bapak bagaimana cari ikannya?)” dan beliau tersebut juga dengan mudah menjawab “ Yo bene mas, paling pemerintah ki arep mateni rakyat cilik” (“ya biarkan mas, mungkin pemerintah itu mau membunuh rakyat kecil”) seketika saya berkomentar “menawi niku nggih targete saget bermanfaat teng masyarakat Pak” (”mungkin targetnya bisa memberi manfaat bagi masyarakat Pak”) beliau juga menjawab “gek endi seh mas buktine, mbiyen seng jarene ono BLT gae rakyat miskin ae gak enek kabare. Mbok yo ojo BBM seng diundakne hargane, pajek ae lo seng diundakne gawe masyarakat seng duwite akeh kuwi, utowo lek gak ngono opo petugase nek POM Bensin iku di ketati bene seng nduwe mobil mewah-mewah kuwi ngisi seng non-subsidi. Kan otomatis BBM subsidi tepat sasaran” (”mana sih mas buktinya, dulu katanya ada BLT untuk rakyat miskin saja tidak ada kabarnya. Mbok ya jangan BBM yang dinaikkan harganya, pajak saja yang dinaikkan untuk masyarakat yang uangnya banyak,atau kalau tidak begitu apa petugas di POM Bensin itu lebih diperketat biar yang punya mobil mewah-mewah itu ngisi yang non-subsidi. Kan otomatis subsidi tepat sasaran”).
Oleh
Kehancuran Sebuah Akreditasi Lembaga Pendidikan
Hal yang paling tidak saya sukai dari sebuah Universitas adalah:
- Dosen Pembimbing mengingkari jadwal bimbingan yang telah disepakati karena hal sepele.
- Semua dosen sok berkuasa bahawa dia berhak atas semua penilaian dari mahasiswa.
- Terbentuknya gap antara dosen dengan mahasiswa, maksudnya mahasiswa yang mereka sukai (red:komplotan) dengan mahasiswa yang kurang mereka sukai (red:mahasiswa kritis dan frontal).
- Adanya mahasiswa atau kumpulan mahasiswa yang rela diinjak dosen supaya dilancarkan kuliahnya dan nilainya bagus. Pasti "tokoh" mahasiswa seperti ini, tidak kenal Tuhan.
- Pungutan liar dimana-mana, dan hal ini sudah mendarah daging.
- Diluar mereka membela kalau ada ketidakadilan yang terjadi pada mahasiswa, tapi di dalam kampus sendiri, bobrok.
- SOP yang berbelit-belit. Semua pada gila hormat. Orang tua selalu gila hormat, tapi selalu tidak mau kalau dibilang seperti itu, munafik.
- Senioritas yang masih kental. Apa untungnya?
- Bangga hanya karena menjadi universitas terbaik, tapi keluarannya cuma calon koruptor.
- Seperti sebuah kerajaan.
Ini bukan suara dari seorang mahasiswa, ini dari mahasiswa.
Oleh
_____________________________________________________________________
Oleh
_____________________________________________________________________
Tag :
opini,


























