Most Read

Dewasa ini kita begitu banyak melihat fenomena yang mungkin bisa dibilang tidak begitu lazim bila kita melihat dengan mata kepala telanjang kita sebagai manusia. Perbudakan manusia ada dimana-mana. Dunia seakan membunuh penghuninya dengan sendirinya, yaitu manusia. Jaman yang semakin maju, manusia dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan yang ada. Manusia seakan dikejar oleh dunia ini sendiri yang selama ini mereka tempati. Bagi mereka yang hanya berdiam diri begitu saja, mustahil rasanya bagi manusia ini untuk bertahan dengan lama di dunia ini. Singkatnya, jangan berdiam diri bila kalian ini berkembang dan bergerak maju untuk mengikuti perkembangan jaman ini. Memang pada dasarnya dunia dengan manusianya tidak akan bisa dipisahkan, seperti prangko dan suratnya, begitulah.

Sepenggal paragraf di atas bukan inti dari judul yang saya tulis tebal, namun hanyalah sebagai analogi betapa kejamnya dunia ini bila manusianya sendiri tidak dapat menmpatkan dirinya benar-benar sebagai manusia yang baik dan benar. Baik bukanlah selalu benar, dan juga sebaliknya. Mayoritas menganggap bahwa baik itu sudah benar, tidak segampang itu menyebutnya.

Ya, memang di jaman globalisasi ini anak kecil (manusia juga kan?) sudah seperti diperbudak oleh jaman yang semakin kejam. Saya tidak beranggapan bahwa anak kecil ini sudah tidak layak lagi untuk menjadi anak pintar dan cerdas. Saya hanyalah memberikan asumsi awal kepada anak kecil yang pada awal pertumbuhannya sudah diperbudak bagaimana bisa menjadi agen perubahan? Bukan  tidak mungkin untuk menjadi agen perubahan namun sangat sulit rasanya. Baiklah saya akan menjelaskan mengapa diperbudak dan mengapa sulit untuk menjadi agen perubahan seperti tema dari tulisan ini.



Jaman yang maju bukan berarti selalu baik dan benar. Benarkah bukan? Jaman yang maju tidak selalu memberikan implikasi yang positif pula kan? Pada saat masih kecil, anak kecil yang baru berusia hitungan tahun saat ini sudah meminum susu formula yang dijual di toko-toko pinggiran jalan. Padahal hal ini tidak memberikan hal yang baik bagi si anak kecil ini. Memang lebih simple lebih mudah, dan ibu juga tidak perlu kesulitan lagi untuk mengeluarkan ASI eksklusif juga kan? Tapi coba kita lihat dari sisi kesehatan, sepengetahuan saya, seorang anak kecil sangat disarankan, bahkan  mungkin juga wajib untuk mendapatkan ASI eksklusif hingga 20 bulan umurnya. Barulah setelah itu anak kecil ini boleh lah untuk diberikan susu formula yang ada di toko-toko pinggiran jalan itu. Coba bayangkan saja, anak kecil yang belum genap usianya dalam 1 tahun sudah meminum susu formula yang tidak dapat kita ketahui kandungan dari susu itu apa saja yang dapat memberikan manfaat pada anak kecil yang belum waktunya untuk meminum susu formula ini. Iya kalau memang baik? Kalau buruk bagaimana? Apa iya nantinya anak kecil ini menjadi agen perubahan seperti apa yang diharapkan? Mungkin bisa, tapi sulit. Dari sisi ekonomi, susu formula yang harganya bisa mencapai ratusan ribu bisa memberikan dampak yang cukup besar terhadap penghasilan orang tua si anak ini. Tidak cukup 1 pack saja dalam satu bulan, bisa mencapai 5 bahkan 7 pack dalam 1 bulan. Sedangkan harga1 packnya saja bisa mencapai ratusan ribu. Lalu orang tua mencari penghasilan tentu tidak hanya mendapatkan 1 pack susu formula saja. Ya kan? Apakah orang tua ini tidak kewalahan juga mencari uang sebanyak itu? Iya kalau orang tua anak ini adalah orang yang kelasnya kelas menengah ke atas, kalau menengah ke bawah? Hal ini menurut saya justru membawa kepada jurang kemiskinan rakyat Indonesia sendiri yang bisa dibilang masih dalam taraf menengah ke bawah.

Selain dari segi ekonomi dan kesehatan, kita bisa membayangkan betapa manjanya nanti si anak apabila tidak meminum susu formula ini, sedangkan orang tua sudah tidak mampu untuk membelikan susu formula. Makan nasi saja tidak mau, harus minum susu pastinya. Nah kan, bagaimana anak bisa dianggapa agen perubahan kalau makan nasi saja tidak mau? Padahal Indonesia sendiri merupakan negara agraris lho. Ya kan?

Kesimpulan dari tulisan ini adalah, anak kecil yang diperbudak oleh perkembangan jaman disini yang saya maksudkan perkembangan anak kecil yang masih umurnya belum begitu lama, namun sudah tidak diberikan ASI eksklusif yang seperti harusnya dilakukan sesuai dengan anjuran kesehatan. Sehingga, anak kecil ini pada perkembangannya tidak dapat berkembang dengan baik dan benar juga. Dan saya lebih setuju bahwa anak ini nantinya tidak akan menjadi agen perubahan namun justru pada agen kehancuran masa depan bangsa ini. Perlu ada perhatian serius dari permasalahan ini. Kerja sama antara pemerintah dengan masyarkat tidak bisa dilepaskan begitu saja.


Oleh
_____________________________________________________________________
Adhitya Tri Arifianto
Administrasi Negara - Universitas Jember
Twitter @AdhityaTri20

Silahkan Berkomentar

Berilah komentar yang menunjukkan kamu adalah orang yang berpendidikan ya, jangan segan untuk berkomentar.

- Copyright © Mahasiswa Banyuwangi - Dari mahasiswa untuk Banyuwangi yang lebih baik -
This site is best viewed using lastest versions of Chrome.
Supported by Pilar Media