Seleki Beastudi Etos 2014
Tentang Beastudi Etos
Beastudi Etos merupakan program investasi SDM dari Divisi Pendidikan (LPI) Dompet Dhuafa, yang fokus pada pembinaan, pendampingan dan pemberdayaan mahasiswa untuk Indonesia unggul dan berdaya. Saat ini Beastudi Etos tersebar di 13 wilayah dan 15 perguruan tinggi di Indonesia dengan memberi bantuan pendidikan dan pengembangkan kepada mahasiswa penerima manfaat berjumlah sekitar 389 orang/tahun. Persebaran Beastudi Etos meliputi wilayah Aceh, Medang, Padang, Jakarta, Bogor, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Samarinda, Makassar, dan Ambon. Adapun sebaran PTN penerima manfaat mulai dari Universitas Syahkuala, Universitas Sumatera Utara, Universitas Andalas, Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjajaran, Universitas Diponegoro, Universitas Gajah Mada, Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga, Institut Teknologi Sepuluh November, Universitas Mulawarman, Universitas Hasanudin, hingga Universitas Pattimura.
Fasilitas Beasiswa
Penerima manfaat akan mendapat fasilitas tinggal di asrama selama 3 tahun dari program berjalan. Asrama adalah media pembinaan intensif para penerima manfaat Beastudi Etos, asrama dikelola sebagai bagian dari sistem pengelolaan program beastudi etos. Selama program berjalan, para penerima manfaat juga akan mendapatkan beberapa fasilitas diantaranya:
- Biaya pendidikan selama 8 semester (4 tahun)
- Uang saku selama 8 semester sebesar Rp 500.000,-/bulan
- Program pembinaan selama 4 tahun
- Dukungan prestasi baik dalam maupun luar negeri
- Biaya bantuan penelitian tugas akhir/skripsi
Terdapat beberapa tahapan seleksi untuk menjadi bagian dari penerima manfaat beastudi etos:
- Pendaftaran dan penerimaan berkas hingga 28 Maret 2014
- Seleksi adminstrasi: 31 Maret - 25 April 2014
- Seleksi tes tulis dan wawancara: 27 April - 4 Mei 2014
- Pengumuman akhir: 15 Juni 2014
- Penandatanganan akad dan komitmen: 16 - 20 Juni 2014
Jika masih kurang jelas, kalian bisa langsung kunjungi info lengkap beastudi etos disini.
_____________________
Oleh Admin1 @mahasiswabwi
PING!! Mahasiswa Banyuwangi on BBM
Hey, apakabar? Sekarang kamu bisa lebih dekat dengan Mahasiswa Banyuwangi melalui BBM lho. Nggak ada modus lain ya, kami mengelola akun secara profesional. 100% ini akun untuk Mahasiswa Banyuwangi, BUKAN punya para admin ya. Ada beberapa hal yang bisa buat kamu harus invite Mahasiswa Banyuwangi, nih:
- Kamu bisa chatting dengan Mahasiswa Banyuwangi pada jam yang telah kami tentukan sebelumnya.
- Kamu bisa berbagi ide kamu yang bermanfaat bagi Banyuwangi.
- Kamu bisa menyumbang info paling hangat dan up to date seputar Banyuwangi atau berbagai macam kegiatan kamu di kampus atau organisasi.
- Kamu akan mendapat info broadcast bermutu dari Mahasiswa Banyuwangi.
- Semua info yang kamu bagikan, jika valid (kamu bisa mempertanggungjawabkannya) dan kamu berkenan, bisa kami share melalui Twitter, Facebook, Path, dan Instagram. Tenang, sumber disertakan kok.
Untuk aturan lain kamu bisa baca di bawah ini ya, ketentuan yang belum ada kami tentukan kemudian.
Lets Get Connected!
Dibalik Angel Foto Favorit Cewek
Kenapa cewek suka pake angel (sudut pengambilan gambar) seperti ini?
Oke. Langsung saja play videonya.
Jadi, sudah tau alasan kenapa cewek suka berfoto dengan angel pojok kanan/kiri atas? Yah, jawaban kamu benar sekali. :D
Oleh:
Perlukah Kurikulum Khusus Wanita ?
Wanita dijajah pria sejak dulu, dijadikan perhiasan sangkar madu, lyric lagu *music*sabda alam. Mungkin ada benarnya juga sih, tapi entahlah, mengapa sepanjang sejarah peradaban, wanita menjadi urusan. Mulai trafficking sampai merebak kepersoalan TKW & karier. Dari kesepakatan 30% wanita diparlemen smpai bidang hukum & hak asasi perempuan. Diruang agama juga pernah diramaikan oleh problem aticfiqh. Didunia edukasi juga .
Dlam sebuah acara training guru-guru SMP negeri swasta se-Jatim, terdapat 80 peserta, 12diantaranya perempuan. Seorang pemateri bertanya kepada peserta, "Mengapa jumlah wanita lebih sedikit?" Dan mendapati jawaban yang menarik "Sebaiknya dibuat saja pelatian khusus wanita, jika perlu buat kurikulum khusus wanita".
Munculnya ide tersebut tentunya ada anggapan bahwa mereka kaum tertindas, kaum yang tertinggal. Sesungguhnya tradisilah yang menggiring mereka terdegradasi pada posisi buncit. Jeratan kultur itulah yang mengikat aktifitasnya hanya berkutak pada 'dapur, sumur, kasur'. Walaupun sebagian memposisikan seperti perhiasan, pusaka dan didewi tololkan. Bahkan tafsir dari alim ulama belum mampu mengusung posisi perempuan sebagai subjek. Hal ini terlihat, wanita merupakan bagian 3 ujian; harta, tahta dan wanita.
Perempuan sesungguhnya merupakan subjek pendidikan (ibu adalah madrasah bagi anak-anaknya; pepatah arab) dengan pengetahuan yang dia miliki dan aqidah dihati mereka bahwa Tuhan senantiasa berperan dalam setiap langkahnya, jika wanita sudah lupa pada Tuhan, maka apa saja bisa dijual termasuk hargadirinya.
Katanya,wanita adalah tiang negara,kalau tiangnya saja hancur bagaimana negaranya?
Jadi kurikulum khusus perempuan apakah perlu?
Nikmati Semua Episode-mu
Manusia itu, selalu merasa kurang. Hal itu wajar, sama halnya dengan setiap orang ingin kembali pada masa dimana dia merasa sempurna. Ini yang terjadi kepada banyak mahasiswa. Mahasiswa itu punya siklus yang...yah boleh dikatakan siklus ini berabad-abad belum bisa berubah. Dari mulai jadi mahasiswa baru - senior - magang - KKN - skripsi - sidang - dan lulus. Nah sekarang yang kita bahas adalah kebanyakan mahasiswa gak bisa menikmati setiap fase dari siklus tersebut. Contohnya? Nih...
Ketika sudah dan baru jadi mahasiswa baru (red:maba) pengennya cepet ngerasain magang. Magang diperusahaan gede dan seolah-olah udah jadi pekerja tetap disina - go home bro, you're drunk -.
Dan waktu begitu cepat. Semester 6 datang. Semester ini beneran waktunya magang. Magang ada yang ditentukan oleh fakultas, beberapa juga bisa cari tempat sendiri. Katakanlah sudah magang di tempat yang benar-benar diinginkannya. Udah jalan 1 bulan dari 2 bulan waktu magang. Dan rasa bosen muncul. "Bosen banget magang, tiap hari berangkat pagi pulang sore. Enak waktu masih maba, mau ngapain aja punya banyak waktu luang". Udah mulai 'sesat'. Magang pun selesai.
Semester 7 datang. Ini adalah semester yang ditunggu-tunggu. Semester dimana kebanyakan mahasiswa mulai KKN. Ada juga sih yang semester 6 udah KKN. Registrasi KKN dimulai. Ketemu sama mahasiswa dari berbagai jurusan. Mata berbinar-binar kalau ada yang bening. Langkah ditegapkan, suara dibesarkan, dan mulai berpakaian....yah kalian tau lah gimana mahasiswa kalau mau cari perhatian. Pembekalan KKN udah lewat. Pengumuman ujian KKN dan seleksi kelompok juga udah terbit. Masuk dalam kelompok dengan yang menurutnya paling OK. KKN berlangsung sebulan, eh..ada yang jadian satu kelompok. Ada konflik dari masing-masing orang dalam kelompok. Banyak hal-hal yang udah dilewati bersama. Terakhir, ada haru ketika KKN telah usai. Hmm...telenovela banget. Eitss...lupa, ditengah-tengah KKN tadi, muncul rasa bosen. KKN cuma seperti ini aja, pengen pulang. Pengen kumpul temen-temen satu jurusan. "Males banget gue bro, tiap hari kerjaannya cuma begini, datang ke rumah warga, ngasih penyuluhan apalah...kayak hidup cuma buat susah-susah aja. Fasilitas gak ada, signal susah, mau update status aja gak bisa. Enak pas magang dulu ya, dateng pagi, absen, dapet makan siang, free WiFi, ruangan ber-AC, akhir magang dapet pesangon. Kalau KKN udah kayak kerja rodi deh". Kesesatan berikutnya terjadi. KKN pun selesai.
Waktu berjalan begitu cepat. Semester 8 pun kini datang. Sistem akademik pun menunjukkan Skripsi boleh ditempuh. Semangat! Jiwa muda berkobar untuk menyelesaikan skripsi tepat pada waktunya. Pengajuan judul pun dimulai. Dari 3 judul, hanya 1 judul yang layak, dan itupun revisi. Lanjut seminar proposal, dengan 2 minggu sibuk revisi dengan dosen pembimbing akhirnya tiba waktu presentasi poposal. Cuma butuh waktu 1 jam, akhirnya lolos dengan pertanyaan bertubi-tubi dari dosen pembahas. Tak perlu waktu lama, surat pengantar penelitian pun terbit. Ditengah-tengah penelitian dan penghimpunan data, menadadak berada dalam titik jenuh. Tak ada yang bisa dilakukan kecuali mencari hiburan. Kumpul bareng temen dan melakukan canda tawa. Sesekali muncul kelimat "Susahnya skripsiku bro, harus kesana-kemari, ngabisin duit. Capek tiap hari mondar-mandir. Tiap bimbingan, selalu ada yang salah, ada yang kurang. Padahal juga udah maksimal. Kam*ing banget tuh dosen. Bikin susah mahasiswa aja. Enak juga waktu masih KKN kemaren bro, santai, tiap hari kumpul sama orang yang baru kenal, ngerasain hal-hal yang belum kita rasain, hidup dilingkungan baru, gue cinlok, temen gue ada yang putus gara-gara ketemu yang baru di KKN. Pokonya enak KKN deh, masa-masa paling indah". Jadwal sidang pun keluar, dan akhirnya dinyatakan lulus.
Waktu kuliah pun berlalu begitu singkat. Jadwal yudisium udah ada dan minggu depannya wisuda. Hal yang paling menyenangkan dan menyedihkan dalam siklus kuliah, wisuda. Seneng karena gelar yang selama ini kita idam-idamkan telah dicapai. Sedihnya karena mau tidak mau akan berpisah dengan bangku kuliah, teman seangkatan, dosen...bisa juga gebetan yang masih awal semester. Menyedihkan bukan? Mau bagaimana,ini memang udah siklus, dan merupakan episode yang harus kamu lewati. Beberapa bulan setelah wisuda, benar-benar dihadapkan dengan 'hutan lebat' dimana kehidupan sebenarnya dimulai. Ketika sempat asa berkurang, batin berbicara "Hidup dan waktu terlalu cepat berlalu. Padahal baru kemarin aja rame-rame kuliah di kelas, TA cuma karena telat bangun, jadi panitia ospek, ngelembur tugas semalaman gak tidur, buka bersama temen sengakatan, magang ditempat favorit, KKN yang tak terlupakan, susah-susahnya ngerjain skripsi. Rasanya enak masih jadi mahasiswa, uang juga masih dijatah sama orang tua. Sekarang harus seperti ini. Hidup memang keras".
Nah, samapai disini, apa ini adalah siklus dengan episode yang salah? Tentunya bukan. Yang salah adalah cara kita melewatinya dulu. Ketika kamu selalu mengelu ketika melewati tiap episode, maka hasilnya bisa sepeti itu. Tetapi jika kamu menikmati semua dan setiap episode-mu, yakin deh akan berbeda. Dari pada menyesali pasti lebih banyak bersukur. Ada 3 pertanyaan untuk diri sendiri ketika kamu selalu ingin kembali ke masa lalu:
- Apakah memang benar ada mesin waktu?
- Apakah kamu ada dilingkungan yang salah?
- Apakah kamu sudah bersukur atas semua hal yang diberikan oleh Tuhan?
Oke sob, do wit your own risk. Jangan pernah menyesali apa yang sudah.
Oleh
Waktunya Mencari Ilmu, Bukan Mencari Uang
Saya cukup pusing melihat hiruk pikuk kehidupan kota ini. Kota kecil dengan kegiatan yang begitu ramai dan padat setiap harinya. Tidak luput dari polusi, tidak luput dari permasalah lainnya juga. Saya sempatkan pikiran ini berhinggap sebentar di anak-anak pengamen dan pengemis. Rasanya itu nyesek lihat mereka, tapi nyesek pun tidak cukup. Toh, saya hanyalah mahasiswa yang uang jajan saja masih minta sama orang tua. Malah saya merasa minder juga kalau melihat mereka itu. Mereka masih kecil, sudah mencari uang, saya sendiri malah enak-enakan habisin uang dengan nyaman. Duhhh....
Ya sudahlah, mau mereka mencari, mau saya menghabiskan, itu memang sudah jalannya. Yang ada difikiran saya, kapan pemerintah ini peduli sama mereka. Anak-anak kecil ini belum waktunya kan buat cari uang? Mereka itu masih waktunya cari ilmu, waktunya belajar, waktunya sekolah. Tapi mereka malah cari penghasilan hanya untuk sekedar sesuap nasi saja. Sedangkan pemerintah malah enak-enakan menghabiskan uang rakyat. Ya kan? Pemerintah ini memang "gak peka" atau memang "gak tau". Tapi masak sih gak tau? Memangnya hanya satu anak kecil saja apa yang mengamen, mengemis? Banyak sekali padahal, ya kan? Entahlah sampai kapan pemerintah kita ini akan memberikan perhatian lebih sama anak-anak yang kurang beruntung ini. Semoga saja ada keberuntungan yang menghinggapi mereka nanti.
Ya sudahlah, mau mereka mencari, mau saya menghabiskan, itu memang sudah jalannya. Yang ada difikiran saya, kapan pemerintah ini peduli sama mereka. Anak-anak kecil ini belum waktunya kan buat cari uang? Mereka itu masih waktunya cari ilmu, waktunya belajar, waktunya sekolah. Tapi mereka malah cari penghasilan hanya untuk sekedar sesuap nasi saja. Sedangkan pemerintah malah enak-enakan menghabiskan uang rakyat. Ya kan? Pemerintah ini memang "gak peka" atau memang "gak tau". Tapi masak sih gak tau? Memangnya hanya satu anak kecil saja apa yang mengamen, mengemis? Banyak sekali padahal, ya kan? Entahlah sampai kapan pemerintah kita ini akan memberikan perhatian lebih sama anak-anak yang kurang beruntung ini. Semoga saja ada keberuntungan yang menghinggapi mereka nanti.
Kalau anak-anak kecil seperti mereka saja waktunya mencari ilmu malah mencari uang, bagaimana bisa menjadi agen perubahan? Apa yang mau dirubah kalau mereka saja masih sulit untuk setidaknya makan sesuap nasi saja? Ya kan?
Saya rasa, sangat-sangat sulit mewujudkan wacana bahwa anak adalah agen perubahan. Perhatian lebih dari sosok pemerintah yang bertanggung jawab, yang setidaknya lebih peduli terhadap nasib mereka sangatlah dibutuhkan.
Saya sangat setuju, apabila anak-anak dijadikan sebagai agen perubahan. Tapi kalau melihat realita yang ada saat ini. Apakah iya nantinya bisa menjadi sebuah agen perubahan kalau mereka saja sangat tidak diperhatikan? Sulit. Tapi satu kata "sulit" itu bukan berarti tidak mungkin. Hanya saja, perlu adanya perbaikan hingga perhatian juga dari pemerintah untuk bekerja sama dengan orang tua anak-anak ini. Terima kasih
Oleh
Masa Kecil Diperbudak Globalisasi
Dewasa ini kita begitu banyak melihat fenomena yang mungkin bisa dibilang tidak begitu lazim bila kita melihat dengan mata kepala telanjang kita sebagai manusia. Perbudakan manusia ada dimana-mana. Dunia seakan membunuh penghuninya dengan sendirinya, yaitu manusia. Jaman yang semakin maju, manusia dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan yang ada. Manusia seakan dikejar oleh dunia ini sendiri yang selama ini mereka tempati. Bagi mereka yang hanya berdiam diri begitu saja, mustahil rasanya bagi manusia ini untuk bertahan dengan lama di dunia ini. Singkatnya, jangan berdiam diri bila kalian ini berkembang dan bergerak maju untuk mengikuti perkembangan jaman ini. Memang pada dasarnya dunia dengan manusianya tidak akan bisa dipisahkan, seperti prangko dan suratnya, begitulah.
Sepenggal paragraf di atas bukan inti dari judul yang saya tulis tebal, namun hanyalah sebagai analogi betapa kejamnya dunia ini bila manusianya sendiri tidak dapat menmpatkan dirinya benar-benar sebagai manusia yang baik dan benar. Baik bukanlah selalu benar, dan juga sebaliknya. Mayoritas menganggap bahwa baik itu sudah benar, tidak segampang itu menyebutnya.
Ya, memang di jaman globalisasi ini anak kecil (manusia juga kan?) sudah seperti diperbudak oleh jaman yang semakin kejam. Saya tidak beranggapan bahwa anak kecil ini sudah tidak layak lagi untuk menjadi anak pintar dan cerdas. Saya hanyalah memberikan asumsi awal kepada anak kecil yang pada awal pertumbuhannya sudah diperbudak bagaimana bisa menjadi agen perubahan? Bukan tidak mungkin untuk menjadi agen perubahan namun sangat sulit rasanya. Baiklah saya akan menjelaskan mengapa diperbudak dan mengapa sulit untuk menjadi agen perubahan seperti tema dari tulisan ini.
Jaman yang maju bukan berarti selalu baik dan benar. Benarkah bukan? Jaman yang maju tidak selalu memberikan implikasi yang positif pula kan? Pada saat masih kecil, anak kecil yang baru berusia hitungan tahun saat ini sudah meminum susu formula yang dijual di toko-toko pinggiran jalan. Padahal hal ini tidak memberikan hal yang baik bagi si anak kecil ini. Memang lebih simple lebih mudah, dan ibu juga tidak perlu kesulitan lagi untuk mengeluarkan ASI eksklusif juga kan? Tapi coba kita lihat dari sisi kesehatan, sepengetahuan saya, seorang anak kecil sangat disarankan, bahkan mungkin juga wajib untuk mendapatkan ASI eksklusif hingga 20 bulan umurnya. Barulah setelah itu anak kecil ini boleh lah untuk diberikan susu formula yang ada di toko-toko pinggiran jalan itu. Coba bayangkan saja, anak kecil yang belum genap usianya dalam 1 tahun sudah meminum susu formula yang tidak dapat kita ketahui kandungan dari susu itu apa saja yang dapat memberikan manfaat pada anak kecil yang belum waktunya untuk meminum susu formula ini. Iya kalau memang baik? Kalau buruk bagaimana? Apa iya nantinya anak kecil ini menjadi agen perubahan seperti apa yang diharapkan? Mungkin bisa, tapi sulit. Dari sisi ekonomi, susu formula yang harganya bisa mencapai ratusan ribu bisa memberikan dampak yang cukup besar terhadap penghasilan orang tua si anak ini. Tidak cukup 1 pack saja dalam satu bulan, bisa mencapai 5 bahkan 7 pack dalam 1 bulan. Sedangkan harga1 packnya saja bisa mencapai ratusan ribu. Lalu orang tua mencari penghasilan tentu tidak hanya mendapatkan 1 pack susu formula saja. Ya kan? Apakah orang tua ini tidak kewalahan juga mencari uang sebanyak itu? Iya kalau orang tua anak ini adalah orang yang kelasnya kelas menengah ke atas, kalau menengah ke bawah? Hal ini menurut saya justru membawa kepada jurang kemiskinan rakyat Indonesia sendiri yang bisa dibilang masih dalam taraf menengah ke bawah.
Selain dari segi ekonomi dan kesehatan, kita bisa membayangkan betapa manjanya nanti si anak apabila tidak meminum susu formula ini, sedangkan orang tua sudah tidak mampu untuk membelikan susu formula. Makan nasi saja tidak mau, harus minum susu pastinya. Nah kan, bagaimana anak bisa dianggapa agen perubahan kalau makan nasi saja tidak mau? Padahal Indonesia sendiri merupakan negara agraris lho. Ya kan?
Kesimpulan dari tulisan ini adalah, anak kecil yang diperbudak oleh perkembangan jaman disini yang saya maksudkan perkembangan anak kecil yang masih umurnya belum begitu lama, namun sudah tidak diberikan ASI eksklusif yang seperti harusnya dilakukan sesuai dengan anjuran kesehatan. Sehingga, anak kecil ini pada perkembangannya tidak dapat berkembang dengan baik dan benar juga. Dan saya lebih setuju bahwa anak ini nantinya tidak akan menjadi agen perubahan namun justru pada agen kehancuran masa depan bangsa ini. Perlu ada perhatian serius dari permasalahan ini. Kerja sama antara pemerintah dengan masyarkat tidak bisa dilepaskan begitu saja.
Oleh
Takut Sekaligus Bingung Dengan Skripsi
Selamat pagi kampusku tercinta, FISIP Universitas Jember. Selamat pagi teman-temanku. Selamat pagi dosen-dosenku. Kampus yang sudah seperti rumahku sendiri. Setiap hari udah keliaran, nongkrong disini. Sudah tidak terasa 3 tahun lebih ada ditempat ini. Dulu yang tadinya gak tau apa-apa sekarang alhamdulilah tau-tau sedikit lah setidaknya apa itu kuliah dan apa itu mahasiswa. Tidak terasa sudah waktunya ya aku ini buat keluar dari sini. Sudah waktunya mengakhiri masa-masa indah jadi mahasiswa ini maksudku.
Ya, kemarin waktu mau pemrograman mata kuliah, iya kebingungan dah. Mau ngambil mata kuliah apa ini. Mau "klik" yang mana ini. Gimana gak bingung. Semua mata kuliah udah hampir beres ditempuh. Tinggal satu mata kuliah yang belum aku tempuh. Emang sih tinggal satu doang. Tapi ya gtu, meskipun satu tetep aja rasanya lebih berat daripada mata kuliah sebelum-sebelumnya yang udah puluhan jumlahnya. Nah, mata kuliah itu adalah SKRIPSI. Rasanya kepala ini langsung berat banget buat kemana-mana waktu dosen pembimbing bilang "Iya emang udah waktunya buat kamu ngambil mata kuliah ini". Rasanya kayak ketemu mantan yang masih disayang terus lagi jalan sama temen sendiri. Doeeeeennnnnngggg jleebbbb!
Ini mau ngapain skripsi coba. Terus terang aja dah, skripsi dimulai darimana aja aku belum tau alurnya. Belum lagi kalo pun udah tau alurnya, terus mau di isi apa itu lembaran-lembaran kertas halus ukuran A4 itu. Mau gak diambil itu udah waktunya, mau diambil, bingung mau kemana arahnya. Ini baru terasa dah sulitnya jadi mahasiswa. Rasanya aku rindu sekali dengan masa-masa maba dulu. Masa-masa belum tau apa-apa, masih seneng-seneng. Masa dimana masih bangga ketika ditanya kakak tingkat atau dosen dengan pertanyaan "Angkatan tahun berapa?". Kalo sekarang ditanya dengan pertanyaan kayak gitu, mau jawab itu rasanya gak beda jauh pas dtanya gebetan "Kapan sih kamu nembak aku?". Jleebbbb.
Skripsi oh skripsi. Kamu kenapa bikin gue bingung gini?!
Oleh
Tema Mahasiswa Dalam 1 Bulan
Mahasiswa selalu identik dengan perkuliahan setiap hari Senin sampai Jum'at. Bahkan, hari Sabtu juga sering ada kuliah tambahan, praktikum dan sebagainya. Padahal yang kita bayangkan dulu adalah kuliah seperti di FTV yang menayangkan tentang kehidupan mahasiswa yang santai dan foya-foya. Tapi kenyataannya??? TIDAK SEPERTI ITU ! ! Mahasiswa itu:
1. Harus bangun pagi ketika dosen meminta kuliah tambahan.
2. Mengikuti perkuliahan setiap hari
3. Ngantuk-ngantuk dengerin Dosen ceramah
4. Kita ngobrol dengan teman dikirain ngegosip
5. Ada kuis dadakan tiap minggu
6. UTS jarak bangkunya 1 meter
7. Kalau lagi kuis, sekalinya tengok kanan kiri langsung lembar jawaban disobek aja.
8. Belum lagi sebagai mahasiswa kita harus pandai-pandai ngatur Uang.
9. Kiriman sering Kali telat masuk.hmmm
10. Ada tagihan untuk uang kost
11. Jatah bensin
12. Pulsa
13. Paketan internet
14. Ngeprint
15. Makan
Ooooh God,, :D
Jadi,
Bagaimana kita membayangkan mahasiswa itu?? Ya seperti itulah fakta mahasiswa yang sebenernya. Gak heran sih, kita sering telpon orang tua sekedar curhat masalah keuangan.hehe
Oleh
Oleh
Kebiasaan Mahasiswa Part III
Kebiasaan Mahasiswa yang ketiga adalah memiliki prinsip Squidward.
Bagi kamu yang sering nonton Spongebob, pasti akan mengenal Squidward. Squidward merupakan gurita pemalas yang memiliki prinsip hidup "Kalau bisa besok, ngapain sekarang?". Bagi sebagian besar mahasiswa, prinsip ini juga sudah mendarah daging dalam kehidupan mereka.
Contoh :
Dosen : “Tugas dikumpul minggu depan"
Mahasiswa : “yes!!, masih lama"
Besoknya : “Dikerjain ntar aja deh, masih 6 hari lagi"
3 hari sebelum pengumpulan : “Dikerjain besok aja deh, sekarang lagi ga mood, kalau dipaksain hasilnya juga ga maksimal.."
1 hari sebelum pengumpulan : “Besok aja deh, sejam juga kelar"
1 jam sebelum pengumpulan : “aaaaaaaaaaarghh!!.. kenapa ga aku kerjain dari kemaren?!" (panik)
Dan siklus pun berlanjut, pada tugas2 selanjutnya, kejadian di atas terulang kembali.
Penyebabnya:
- Malas
- Over confidence, sehingga menganggap tugas yang diberikan gampang untuk dikerjakan dalam waktu singkat
- Baru dapat inspirasi ketika terdesak
Akibatnya:
- Tugas gantung, cuma bisa dikerjain setengah = nilai yang didapat juga setengah
- Tugas selesai, tapi isinya ga karuan = kalau dapet A merupakan sebuah keajaiban
Solusinya:
Kebiasaan Mahasiswa Part II
Oke, kebiasaan mahasiswa berikutnya akan kita bahas disini.
Titip absen (TA) merupakan perilaku mahasiswa yang dengan sengaja meminta kepada mahasiswa lain (teman sekelasnya) untuk mengisikan absennya. Jika temannya tidak mau membantunya melakukan TA, biasanya dia akan mengintimidasi temannya tersebut dengan kata-kata “ga setia kawan lo!" atau “Oh, jadi persahabatan kita cuma sebatas TA?"
*Terlalu dramatis gak sih?
Penyebabnya:
- Sakit, urusan keluarga
- Telat bangun
- Sibuk organisasi
- Lupa kalau ada kuliah
- Malas kuliah, dengan alasan : “Mending gue TA daripada tidur di kelas"
Akibatnya:
- Gak jauh beda sama tidur di kelas
- Ngajak teman ke neraka, karena teman yang TA-in jadi ikut-ikutan dosa
Solusinya:
Oleh
Kebiasaan Mahasiswa Part I
Ketika kamu dilahirkan dan ditakdirkan untuk menjadi seorang mahasiswa, kamu akan berada dalam dunia mahasiswa, terjebak dalam dunia mahasiswa, dan melewati semua aktifitas dalam dunia mahasiswa.
*Eh, intronya terlalu serem ini.
Berikut ada beberapa kebiasaan mahasiswa yang mungkin atau pasti kamu alami dan solusinya. Semoga menginspirasi. Maaf kalau konyol, tertawa aja :-)
Solusinya:
Oleh
*Eh, intronya terlalu serem ini.
Berikut ada beberapa kebiasaan mahasiswa yang mungkin atau pasti kamu alami dan solusinya. Semoga menginspirasi. Maaf kalau konyol, tertawa aja :-)
Kebiasaan mahasiswa yang pertama adalah tidur di dalam kelas.
Entah disengaja atau tidak, ini merupakan kebiasaan alami mahasiswa. Baik mahasiswa yang pemalas, maupun yang rajin, mahasiswa aktivis, maupun pasifis, mahasiswa agamis, maupun anarkis, pasti pernah mengalami tidur di kelas.
Penyebabnya:
- Begadang : karena ngerjain tugas semalaman, main game online, atau nonton bola.
- Suara dosen yang merdu dan mendayu-dayu.
Akibatnya:
- adi ga tahu apa yang disampaikan oleh dosen, sehingga pas ujian juga ga tahu mau jawab apa, ujung-ujungnya malah dosennya yang disalahin, ngatain kalaudosennya gak pernah ngajarin materi inilah, atau gak pernah nerangin bagian itu lah, padahal dianya yang molor di kelas.
- Tidurlah di luar kelas.
Oleh
Dosen Killer dan Mantan Pacar
Dan bagaimana jika kedua makhluk ini kita bandingkan, keduanya sama-sama hadir dikehidupan mahasiswa.
Dan hasilnya adalah SAMA.
Oleh



























